Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi)
penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya
melainkan dengan kekuatan.
·Tafsir
Jalalain
[يا
معشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا] تخرجوا
[من أقطار] نواحي [السماوات والأرض
فانفذوا] أمر تعجيز [لا تنفذون إلا بسلطان] بقوة
ولا قوة لكم على ذلك
·Tafsir Al
Baghowi
" يا معشر الجن والإنس إن استطعتم
أن تنفذوا "، أي تجوزوا وتخرجوا، " من أقطار السموات والأرض "، أي
من جوانبهما وأطرافهما، " فانفذوا "، معناه إن استطعتم أن تهربوا من
الموت بالخروج من أقطار السموات والأرض: فاهربوا واخرجوا منها. [والمعنى]: حيثما
كنتم أدرككم الموت، كما قال جل ذكره: " أينما تكونوا يدرككم الموت "
(النساء-78) وقيل: يقال لهم هذا يوم القيامة إن استطعتم أن تجوزوا أطراف السموات
والأرض فتعجزوا ربكم حتى لا يقدر عليكم فجوزوا، فالملك والقدرة والحجة كلها سلطان،
يريد حيثما توجهتم كنتم في ملكي وسلطاني. وروي عن ابن عباس قال: معناه: إن استطعتم
أن تعلموا ما في السموات والأرض فاعلموا ولن تعلموه إلا بسلطان أي ببينة من الله
عز وجل. وقيل قوله: ((إلا بسلطان)) أي إلى سلطان كقوله: " قد أحسن بي "
(يوسف-100) أي إلي
1.Ayat
ini di tafsirkan bahwa Manusia benar benar telah bisa melintasi langit dan
Apolo sebelas benar-benar telah mendarat di Bulan. Maka kata “Ash-Shulthan”
yang berarti “Kekuatan” di tafsirkan sebagai ilmu pengetahuan dan Teknologi.
2.Ibnu
Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas :
Maksud ayat ini adalah Kalian tidak akan sanggup melarikan diri dari keputusan
dan takdir Allah, bahkan Dia melihat kalian. Kalian tidak akan dapat melepaskan
diri dari hukum-Nya.
Dimana saja kalian berada, Dia akan selalu meliputi kalian. Dan itulah yang
berlangsung pada saat pengumpulan manusia di alam Mahsyar. Pada saat itu
malaikat mengelillingi makhluq dalam tujuh barisan di setiap sisi, sehingga
tidak ada seorangpun yang bisa pergi {إِلَّا
بِسُلْطَانٍ} “melainkan dengan
kekuatan”maksudnya dengan perintah Allah lau beliau menuliskan surat Al-Qiyamah
ayat 10-12 ( silahkan baca kelanjutannya dalam buku tafsir
ibnu katsir halaman 628-629).
3.Sedangkan
menurut Syaikh
Utsaimin rahimahullah (seorang Ulama Kibar di Arab Saudi)
tafsir سُلْطَانٍ denga ilmu pengetahuan tertolak menurut beberapa tinjauan :
a.Bahwasanya
teks (bentuk) ayat tersebut menunjukkan tantangan (dariAllah) pada hari kiamat
nanti. Hal itu tampak jelas sekali bagi orang yang telah membaca dari awal
surat ini (Ar
Rahman) karena Allah menyebutkan di dalam surat ini
tentang awal penciptaan manusia dan jin serta apa saja yang telah disediakan
oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya di ufuk-ufuk langit/kaki langit dan di bumi.
Kemudian Allah menyebutkan segala yang ada di bumi akan binasa dan punah.
Kemudian Allah berfirman :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
Semua yang ada di bumi
itu akan binasa.(Ar Rahman :26)
Dan tetap kekal Dzat
Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”(Ar Rahman:27)
سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ
“Kami akan
memperhatikan sepenuhnya kepadamu Hai manusia dan jin.” (Ar Rahman:31)
Tidak ragu lagi bahwa
teks atau hubungan ayat tersebut (QS. Ar
Rahman : 33) menjelaskan dan menentukan makna tersebut
(sebagaimana keterangan di atas tentang makna ayatnya). Boleh jadi satu kata
atau kalimat mencocoki makna tersebut pada satu tempat dan tidak cocok pada
tempat yang lainnya. Engkau lihat terkadang satu kata mempunyai dua makna yang
saling berlawanan. Maka untuk menentukan dan menetapkan makna yang sebenarnya
adalah dengan melihat teks (siyaq) kata tersebut. Sebagaimana hal itu diketahui
menurut kaidah bahasa Arab tentang kata-kata yang saling kontradiksi maknanya.
Seandainya teks yang mulia ini dikira¬kirakan (takdir) sesuai denganmakna “ﺮﺒﺨﻟﺍ”
peng-khabaran tentang yang akan terjadi di dunia (bukan makna “ﻯﺪﺤﺘﻟﺍ”
tantangan-pent) maka pada tempat ini, ayat tersebut tidak sesuai dengan makna “ﺮﺒﺨﻟﺍ”
pengkhabaran. Bahkan penetapan yang sesuai adalah untuk mengancam dan
melemahkan (jin dan manusia). Hal ini berdasarkan teks atau hubungan ayat-ayat
sebelumnya dan sesudahnya.
b.Seluruh
ahli tafsir menyebutkan:
“Sesungguhnya ayat tersebut untuk mengancam dan melemahkan (jin dan manusia)
pada hari kiamat. Mayoritas ahli tafsir berpendapat hal itu terjadi pada hari
kiamat. Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithiy _ berbicara tentang ayat ini (Ar Rahman : 33) pada
pembahasan surat Al Hajr pada firman Allah Ta’ala :
dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang bintang (di langit) dan
Kami telah menghiasi langit itu bagi orang- orang yang memandang (nya.” (Al
Hijr 16)
وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ
Dan
Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk.” (Al Hijr:17)
Beliau (Asy Syaikh Asy
Syinqithiy) mensifati orang yang beranggapan bahwa ayat tersebut (Ar Rahman : 33)
mengisyaratkan bahwa jin dan manusia sanggup melintasi dan menembus sampai ke
langit, adalah orang tersebut tidak memiliki ilmu pengetahuan terhadap
Kitabullah.
c.Seandainya
ayat tersebut (Ar Rohman: 33) maknanya adalah pengkhabaran tentang perkara yang
akan terjadi, tentu maknanya adalah : “Wahai sekalian jin dan manusia
sesungguhnya kalian tidak akan sanggup menembus penjuru langit dan bumi kecuali
dengan pengetahuan dan mampu melakukan sebab-sebab mencapainya. Kemudian
sungguh makna ini meniadakan dan merampas makna dan kedudukan ayat yang
sebenarnya. Karena ayat tersebut didahului oleh peringatan keras pada Firman
Allah Ta’ala :
سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ
“Kami akan
memperhatikan sepenuh nya kepadamu, wahai manusia dan jin.” (Ar Rahman : 31)
Dan setelah itu
dilanjutkan dengan ancaman yang keras dari firman Allah :
Katakanlah:
"Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al
Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupadengan Dia,
Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Al
Israa` : 88)
Bahwa firman Allah
Ta’ala : "jika kalian sanggup"tampak menunjukkan tantangan secara
khusus. Allah berfirman dengan menggunakan lafadz “in” bukan dengan lafadz
“idza” karena “idza” menunjukkan syarat, berbeda dengan “in”
e.Seandainya
ayat tersebut bermakna khobar (tentang perkara yang akan terjadi di dunia bukan
tantangan) maka ayat tersebut mengandung pujian dan sanjungan bagi mereka yang
telah melakukan pembahasan dan penelitian terhadap fasilitas fasilitas yang
disediakan oleh Allah di dunia ini. Sehingga mereka mampu melintasi berbagai
penjuru tersebut, (akan tetapi) Nabi Muhammad saw dan para sahahabatnya tidak pernah
melakukannya (kalau memang benar ayat tersebut mengandung pujian terhadap apa
saja yang dilakukan oleh para astronot itu. Maka sudah tentu manusia yang
paling bersegera melaksanakan perintah Al Qur’an yaitu Nabi saw dan para
sahabatnya adala orang yang pertama kali melakukannya dari pada ahli astronot
itu.
f.Sesungguhnya
ketentuan hukum ayat yang mulia ini (Ar Rohman: 33) mencakup jin dan mnusia,
termasuk perkara yang dimaklumi. Ketika (nuzulul qur’an) Al Qur’an diturun-kan
dan bangsa jin mampu melintasi pelbagai penjuru langit, sebagaimana Allah
menceritakan tantang perkataan bangsa jin :
Dan Sesungguhnya Kami
telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, Maka Kami mendapatinya penuh dengan
penjagaan yang kuat dan panah-panah api.(Al Jin:8)
Dan Sesungguhnya Kami
dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar dengarkan
(berita beritanya). tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-
dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk
membakarnya). (Al Jin:9)
Bagaimanakah Allah
menjadikan bangsa jin lemah dan tidak mampu melintasi berbagai penjuru langit
itu padahal dulunya mereka mampu melakukannya ? Jika dikatakan:
“Sesungguhnya bangsa jin senantiasa tidak akan mampu setelah diutusnya Nabi
Muhammad saw. Kami jawab (perkataannya) : Alasan inilah yang paling tepat bahwa
ayat tersebut tujuannya adalah untuk melemahkan (jin apalagi manusia) bukan
menunjukkan khabar terhadap yang akan terjadi di dunia.
g.Sesungguhnya
ayat tersebut (Ar Rohman: 33) mencakup hukum melintasi berbagai penjuru langit
dan bumi. Dan termasuk perkara yang dimaklumi bahwa mereka (jin dan mnusia)
tidak akan mampu menembus penjuru langit bagaimana-pun besarnya kekuatan
mereka.
h.Ayat
yang mulia tersebut dilanjutkan dengan firman Allah Ta’ala : Q.S Ar Rohman 35
Makna ayat ini wallahu
a’lam bahwasanya kalian wahai sekalian jin dan manusia, walaupun kalian
berusaha sekuat tenaga melintasi dan menembus penjuru langit pasti kalian akan
dilempari nyala api dan cairan tembaga. Padahal telah diketahui bahwa pesawat
roket dan ulak alik tersebut tidaklah dilempari nyala api dan tidak pula cairan
tembaga. Maka bagaimana mungkin (pesawat roket dan ulak alik) hasil buatan
manusia itu maksud/tafsir ayat tersebut.
i.Sesungguhnya
mereka (yang menerima dan mendukung) berita tentang pendaratan pesawat
antariksa tersebut adalah benar, menafsirkan kata (Shulthan) dalm surat Ar
Rohman: 33 dengan “Ilmu pengetahuan” perlu diper timbangkan dan diteliti
kembali Mengapa? karena kata (Shulthan) “kekuasaan yang dimiliki satu orang
yang ingin memerintah dan menguasai.” (Shulthan) mempunyai makna berbeda-beda
sesuai dengan perbedaan kedudukannya (dalam kalimat). Apabila lafadz (Shulthan)
terletak pada (Maqaamul A’mal) kalimat yang menjelaskan pekerjaan, perbuatan
dan semisalnya. Maka yang dimaksud adalah kekutaan. Di antaranya firman Allah
Ta’ala tentang Iblis :
"Sesungguhnya
kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi
pemimpin dan atas orang orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (An
Nahl:100)
(Shulthan) dalam ayat
ini artinya qudroh (kemampuan), tidak benar maknanya al Ilmu (ilmu pengetahuan)
dan di antaranya (Shulthan) yang disebutkan pada ayat yang kita maksud karena
melintasi dan menembus penjuru langit dan bumi itu adalah suatu perbuatan yang
membutuhkan kekuatan dan kemampuan. ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup,
mereka tidak akan sampai ke apa saja yang telah dituturkan (yakni ke bulan)
hanya dengan ilmu pengetahuan semata tetapi harus dengan ilmu pengetahuan,
kemampuan dan fasilitas (sebab-sebabnya) yang dipersiapkan oleh Allah untuk
mereka. Kemudian apabila (Shulthan) terletak pada (maqom al-hujjah
al-mujadalah) kalimat yang mengandung bantahan dan perdebatan, maka yang
dimaksud dengan (Shulthan) adalah “Burhan” bukti/alasan, dan “Hujjah” argumentasi
yang digunakan untuk membantah/mengalahkanpihak lawan yang berselisih, di
antara firman Allah Ta’ala:
Mereka
(orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempunyai anak".
Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah
kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?
Yakni bukti alasan dan
hujjah (argument). Lafadz “Shulthan” tidak ada dalam Al Qur’an semata-mata
makna-nya adalah “ilmu” Ilmu pengetahuan. Dan kalau kita meninjau asal katanya
maksud“Shulthan“adalah siapa saja yangmenyebabkan seorang hamba memperoleh
kkuatan, kekuasaan dan kemenangan. Oleh karena itu jelaslah bahwa ayat yang
mulia (Ar Rohman: 33) tidaklah mengisyaratkan tentang penyebutan pesawat
antariksa (ruangangkasa) dan tidaklah menunjukkan pesawat pesawat tersebut
mendarat di bulan.
Demikian 9 alasan yang
cukup kuat dari Syaikh Utsaimin rahimahullah tentang kesalahan tafsir surat Ar
Rohman ayat 33. Selanjutnya mari kita simak baik baik ayat Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.( Qs. Al-Hujurat : 6)
j.Ketika manusia
berhasil mendarat di bulan, sebagian manusia menafsirkan ayat ini dan
menempatkannya sebagai tafsiran bagi peristiwa ini. Dan mengatakan bahwa
sesungguhnya yang dimaksud dengan sulthan dalam ayat ini adalah ilmu, karena
mereka mampu menembus penjuru bumi dengan ilmu mereka. Ini adalah salah, tidak
boleh menafsirkan Al-Qur’an dengan hal ini, karena jika engkau menafsirkan
Al-Qur’an dengan satu makna maka itu berarti engkau bersaksi bahwa Allah
menghendaki maskud ayat ini seperti apa yang engkau katakan. Ini adalah
persaksian yang besar, engkau akan ditanya tentang hal ini. Dan barangsiapa
yang menelaah ayat ini maka dia akan menemukan bahwa ini adalah tafsir yang
bathil, karena ayat ini mempunyai konteks penjelasan tentang keadaan manusia
dan urusan mereka. Bacalah surat Ar-Rahman maka akan engkau temukan bahwa ayat
ini disebutkan setelah firman Allah.
4.Berkata
asy-Syaikh Dr. Abdul Azim Badawi : Pada ayat ini Allah melarang hambanya yang
beriman dari mengekor kepada isu yang tersebar, dan memerintahkan mereka untuk
meneliti kebenaran berita yang sampai kepada mereka, karena tidak semua yang di
beritakan itu benar adanya, dan tidaklah setiap yang dibicarakan itu merupakan
suatu Kejujuran. Sesungguhnya musuh-musuh kalian senantiasa mengintai kelemahan
kalian, maka wajib atas kalian agar selalu terjaga, sehingga kalian bisa
memergoki orang-orang yang hendak membangkitkan dan menyebarkan isu yang tidak
benar di tengah tengah kalian. Maksud ayat di atas adalah janganlah kalian
terima beritanya, sampai kalian teliti dan membuktikan kebenarannya. Lalu
mengapa kita sebagai muslim yang telah datang keterangan dari ayat-ayat suci
yang mulia dengan tegas memerintahkan kita untuk meneliti dan meneliti dengan
mudahnya menelan berita ini mentah-mentah bahkan dengan lancangnya
mengkait-kaitkan kejadian ini dengan ayat Al-Quran yang ditafsirkan secara
sembrono.