Kamis, 03 November 2011

Tugas Ilmu Budaya Dasar (Tugas Pribadi)


Q.S Ar-Rahman ayat 33
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ
Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
·         Tafsir Jalalain
[يا معشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا] تخرجوا [من أقطار] نواحي [السماوات والأرض فانفذوا] أمر تعجيز [لا تنفذون إلا بسلطان] بقوة ولا قوة لكم على ذلك
·         Tafsir Al Baghowi

" يا معشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا "، أي تجوزوا وتخرجوا، " من أقطار السموات والأرض "، أي من جوانبهما وأطرافهما، " فانفذوا "، معناه إن استطعتم أن تهربوا من الموت بالخروج من أقطار السموات والأرض: فاهربوا واخرجوا منها. [والمعنى]: حيثما كنتم أدرككم الموت، كما قال جل ذكره: " أينما تكونوا يدرككم الموت " (النساء-78) وقيل: يقال لهم هذا يوم القيامة إن استطعتم أن تجوزوا أطراف السموات والأرض فتعجزوا ربكم حتى لا يقدر عليكم فجوزوا، فالملك والقدرة والحجة كلها سلطان، يريد حيثما توجهتم كنتم في ملكي وسلطاني. وروي عن ابن عباس قال: معناه: إن استطعتم أن تعلموا ما في السموات والأرض فاعلموا ولن تعلموه إلا بسلطان أي ببينة من الله عز وجل. وقيل قوله: ((إلا بسلطان)) أي إلى سلطان كقوله: " قد أحسن بي " (يوسف-100) أي إلي

1.      Ayat ini di tafsirkan bahwa Manusia benar benar telah bisa melintasi langit dan Apolo sebelas benar-benar telah mendarat di Bulan. Maka kata “Ash-Shulthan” yang berarti “Kekuatan” di tafsirkan sebagai ilmu pengetahuan dan Teknologi.
2.      Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas : Maksud ayat ini adalah Kalian tidak akan sanggup melarikan diri dari keputusan dan takdir Allah, bahkan Dia melihat kalian. Kalian tidak akan dapat melepaskan diri dari hukum-Nya. Dimana saja kalian berada, Dia akan selalu meliputi kalian. Dan itulah yang berlangsung pada saat pengumpulan manusia di alam Mahsyar. Pada saat itu malaikat mengelillingi makhluq dalam tujuh barisan di setiap sisi, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa pergi {إِلَّا بِسُلْطَانٍ} “melainkan dengan kekuatan”maksudnya dengan perintah Allah lau beliau menuliskan surat Al-Qiyamah ayat 10-12 ( silahkan baca kelanjutannya dalam buku tafsir ibnu katsir halaman 628-629).
3.      Sedangkan menurut Syaikh Utsaimin rahimahullah (seorang Ulama Kibar di Arab Saudi) tafsir سُلْطَانٍ denga ilmu pengetahuan tertolak menurut beberapa tinjauan :
a.       Bahwasanya teks (bentuk) ayat tersebut menunjukkan tantangan (dariAllah) pada hari kiamat nanti. Hal itu tampak jelas sekali bagi orang yang telah membaca dari awal surat ini (Ar Rahman) karena Allah menyebutkan di dalam surat ini tentang awal penciptaan manusia dan jin serta apa saja yang telah disediakan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya di ufuk-ufuk langit/kaki langit dan di bumi. Kemudian Allah menyebutkan segala yang ada di bumi akan binasa dan punah. Kemudian Allah berfirman :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa.(Ar Rahman :26)

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”(Ar Rahman :27)

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ
“Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu Hai manusia dan jin.” (Ar Rahman :31)

Tidak ragu lagi bahwa teks atau hubungan ayat tersebut (QS. Ar Rahman : 33) menjelaskan dan menentukan makna tersebut (sebagaimana keterangan di atas tentang makna ayatnya). Boleh jadi satu kata atau kalimat mencocoki makna tersebut pada satu tempat dan tidak cocok pada tempat yang lainnya. Engkau lihat terkadang satu kata mempunyai dua makna yang saling berlawanan. Maka untuk menentukan dan menetapkan makna yang sebenarnya adalah dengan melihat teks (siyaq) kata tersebut. Sebagaimana hal itu diketahui menurut kaidah bahasa Arab tentang kata-kata yang saling kontradiksi maknanya. Seandainya teks yang mulia ini dikira¬kirakan (takdir) sesuai denganmakna “ﺮﺒﺨﻟﺍ” peng-khabaran tentang yang akan terjadi di dunia (bukan makna “ﻯﺪﺤﺘﻟﺍ” tantangan-pent) maka pada tempat ini, ayat tersebut tidak sesuai dengan makna “ﺮﺒﺨﻟﺍ” pengkhabaran. Bahkan penetapan yang sesuai adalah untuk mengancam dan melemahkan (jin dan manusia). Hal ini berdasarkan teks atau hubungan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya.
b.      Seluruh ahli tafsir menyebutkan: “Sesungguhnya ayat tersebut untuk mengancam dan melemahkan (jin dan manusia) pada hari kiamat. Mayoritas ahli tafsir berpendapat hal itu terjadi pada hari kiamat. Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithiy _ berbicara tentang ayat ini (Ar Rahman : 33) pada pembahasan surat Al Hajr pada firman Allah Ta’ala :
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang- orang yang memandang (nya.” (Al Hijr 16)
وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ
Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk.” (Al Hijr:17)

Beliau (Asy Syaikh Asy Syinqithiy) mensifati orang yang beranggapan bahwa ayat tersebut (Ar Rahman : 33) mengisyaratkan bahwa jin dan manusia sanggup melintasi dan menembus sampai ke langit, adalah orang tersebut tidak memiliki ilmu pengetahuan terhadap Kitabullah.
c.       Seandainya ayat tersebut (Ar Rohman: 33) maknanya adalah pengkhabaran tentang perkara yang akan terjadi, tentu maknanya adalah : “Wahai sekalian jin dan manusia sesungguhnya kalian tidak akan sanggup menembus penjuru langit dan bumi kecuali dengan pengetahuan dan mampu melakukan sebab-sebab mencapainya. Kemudian sungguh makna ini meniadakan dan merampas makna dan kedudukan ayat yang sebenarnya. Karena ayat tersebut didahului oleh peringatan keras pada Firman Allah Ta’ala :
سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ
“Kami akan memperhatikan sepenuh nya kepadamu, wahai manusia dan jin.” (Ar Rahman : 31)

Dan setelah itu dilanjutkan dengan ancaman yang keras dari firman Allah :
يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ
kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga Maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya).” (Ar Rahman: 35)
d.      Ayat tersebut (Ar Rahman: 33) sangat jelas menunjukkan tantangan kepada jin dan manusia. Karena beberapa alasan :
1.       Adanya hubungan ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.
2.       Allah menyebutkan jin dan manusia seluruhnya dengan satu komunitas. Hal itu seperti firman Allah Ta’ala :
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupadengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Al Israa` : 88)
Bahwa firman Allah Ta’ala : "jika kalian sanggup"tampak menunjukkan tantangan secara khusus. Allah berfirman dengan menggunakan lafadz “in” bukan dengan lafadz “idza” karena “idza” menunjukkan syarat, berbeda dengan “in”
e.       Seandainya ayat tersebut bermakna khobar (tentang perkara yang akan terjadi di dunia bukan tantangan) maka ayat tersebut mengandung pujian dan sanjungan bagi mereka yang telah melakukan pembahasan dan penelitian terhadap fasilitas fasilitas yang disediakan oleh Allah di dunia ini. Sehingga mereka mampu melintasi berbagai penjuru tersebut, (akan tetapi) Nabi Muhammad saw dan para sahahabatnya tidak pernah melakukannya (kalau memang benar ayat tersebut mengandung pujian terhadap apa saja yang dilakukan oleh para astronot itu. Maka sudah tentu manusia yang paling bersegera melaksanakan perintah Al Qur’an yaitu Nabi saw dan para sahabatnya adala orang yang pertama kali melakukannya dari pada ahli astronot itu.
f.       Sesungguhnya ketentuan hukum ayat yang mulia ini (Ar Rohman: 33) mencakup jin dan mnusia, termasuk perkara yang dimaklumi. Ketika (nuzulul qur’an) Al Qur’an diturun-kan dan bangsa jin mampu melintasi pelbagai penjuru langit, sebagaimana Allah menceritakan tantang perkataan bangsa jin :

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا
Dan Sesungguhnya Kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, Maka Kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.(Al Jin:8)
وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا
Dan Sesungguhnya Kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar dengarkan (berita beritanya). tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar- dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (Al Jin:9)

Bagaimanakah Allah menjadikan bangsa jin lemah dan tidak mampu melintasi berbagai penjuru langit itu padahal dulunya mereka mampu melakukannya ? Jika dikatakan:
“Sesungguhnya bangsa jin senantiasa tidak akan mampu setelah diutusnya Nabi Muhammad saw. Kami jawab (perkataannya) : Alasan inilah yang paling tepat bahwa ayat tersebut tujuannya adalah untuk melemahkan (jin apalagi manusia) bukan menunjukkan khabar terhadap yang akan terjadi di dunia.
g.      Sesungguhnya ayat tersebut (Ar Rohman: 33) mencakup hukum melintasi berbagai penjuru langit dan bumi. Dan termasuk perkara yang dimaklumi bahwa mereka (jin dan mnusia) tidak akan mampu menembus penjuru langit bagaimana-pun besarnya kekuatan mereka.
h.      Ayat yang mulia tersebut dilanjutkan dengan firman Allah Ta’ala : Q.S Ar Rohman 35
Makna ayat ini wallahu a’lam bahwasanya kalian wahai sekalian jin dan manusia, walaupun kalian berusaha sekuat tenaga melintasi dan menembus penjuru langit pasti kalian akan dilempari nyala api dan cairan tembaga. Padahal telah diketahui bahwa pesawat roket dan ulak alik tersebut tidaklah dilempari nyala api dan tidak pula cairan tembaga. Maka bagaimana mungkin (pesawat roket dan ulak alik) hasil buatan manusia itu maksud/tafsir ayat tersebut.
i.        Sesungguhnya mereka (yang menerima dan mendukung) berita tentang pendaratan pesawat antariksa tersebut adalah benar, menafsirkan kata (Shulthan) dalm surat Ar Rohman: 33 dengan “Ilmu pengetahuan” perlu diper timbangkan dan diteliti kembali Mengapa? karena kata (Shulthan) “kekuasaan yang dimiliki satu orang yang ingin memerintah dan menguasai.” (Shulthan) mempunyai makna berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kedudukannya (dalam kalimat). Apabila lafadz (Shulthan) terletak pada (Maqaamul A’mal) kalimat yang menjelaskan pekerjaan, perbuatan dan semisalnya. Maka yang dimaksud adalah kekutaan. Di antaranya firman Allah Ta’ala tentang Iblis :
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang- orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya".(An Nahl:99)

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ
"Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (An Nahl:100)
(Shulthan) dalam ayat ini artinya qudroh (kemampuan), tidak benar maknanya al Ilmu (ilmu pengetahuan) dan di antaranya (Shulthan) yang disebutkan pada ayat yang kita maksud karena melintasi dan menembus penjuru langit dan bumi itu adalah suatu perbuatan yang membutuhkan kekuatan dan kemampuan. ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup, mereka tidak akan sampai ke apa saja yang telah dituturkan (yakni ke bulan) hanya dengan ilmu pengetahuan semata tetapi harus dengan ilmu pengetahuan, kemampuan dan fasilitas (sebab-sebabnya) yang dipersiapkan oleh Allah untuk mereka. Kemudian apabila (Shulthan) terletak pada (maqom al-hujjah al-mujadalah) kalimat yang mengandung bantahan dan perdebatan, maka yang dimaksud dengan (Shulthan) adalah “Burhan” bukti/alasan, dan “Hujjah” argumentasi yang digunakan untuk membantah/mengalahkanpihak lawan yang berselisih, di antara firman Allah Ta’ala:
قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَذَا أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Yakni bukti alasan dan hujjah (argument). Lafadz “Shulthan” tidak ada dalam Al Qur’an semata-mata makna-nya adalah “ilmu” Ilmu pengetahuan. Dan kalau kita meninjau asal katanya maksud“Shulthan“adalah siapa saja yangmenyebabkan seorang hamba memperoleh kkuatan, kekuasaan dan kemenangan. Oleh karena itu jelaslah bahwa ayat yang mulia (Ar Rohman: 33) tidaklah mengisyaratkan tentang penyebutan pesawat antariksa (ruangangkasa) dan tidaklah menunjukkan pesawat pesawat tersebut mendarat di bulan.
Demikian 9 alasan yang cukup kuat dari Syaikh Utsaimin rahimahullah tentang kesalahan tafsir surat Ar Rohman ayat 33. Selanjutnya mari kita simak baik baik ayat
http://web1hari.com/file/gif/49/49_6.gifHai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.( Qs. Al-Hujurat : 6)
j.        Ketika manusia berhasil mendarat di bulan, sebagian manusia menafsirkan ayat ini dan menempatkannya sebagai tafsiran bagi peristiwa ini. Dan mengatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan sulthan dalam ayat ini adalah ilmu, karena mereka mampu menembus penjuru bumi dengan ilmu mereka. Ini adalah salah, tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an dengan hal ini, karena jika engkau menafsirkan Al-Qur’an dengan satu makna maka itu berarti engkau bersaksi bahwa Allah menghendaki maskud ayat ini seperti apa yang engkau katakan. Ini adalah persaksian yang besar, engkau akan ditanya tentang hal ini. Dan barangsiapa yang menelaah ayat ini maka dia akan menemukan bahwa ini adalah tafsir yang bathil, karena ayat ini mempunyai konteks penjelasan tentang keadaan manusia dan urusan mereka. Bacalah surat Ar-Rahman maka akan engkau temukan bahwa ayat ini disebutkan setelah firman Allah.
4.      Berkata asy-Syaikh Dr. Abdul Azim Badawi : Pada ayat ini Allah melarang hambanya yang beriman dari mengekor kepada isu yang tersebar, dan memerintahkan mereka untuk meneliti kebenaran berita yang sampai kepada mereka, karena tidak semua yang di beritakan itu benar adanya, dan tidaklah setiap yang dibicarakan itu merupakan suatu Kejujuran. Sesungguhnya musuh-musuh kalian senantiasa mengintai kelemahan kalian, maka wajib atas kalian agar selalu terjaga, sehingga kalian bisa memergoki orang-orang yang hendak membangkitkan dan menyebarkan isu yang tidak benar di tengah tengah kalian. Maksud ayat di atas adalah janganlah kalian terima beritanya, sampai kalian teliti dan membuktikan kebenarannya. Lalu mengapa kita sebagai muslim yang telah datang keterangan dari ayat-ayat suci yang mulia dengan tegas memerintahkan kita untuk meneliti dan meneliti dengan mudahnya menelan berita ini mentah-mentah bahkan dengan lancangnya mengkait-kaitkan kejadian ini dengan ayat Al-Quran yang ditafsirkan secara sembrono.

Allahu A’lam !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar