Senin, 13 Oktober 2014

nilai itu adalah penghargaan atas prestasi, bukan pemberian *bukan diary

Sudah sewajarnya, seorang mahasiswa menginginkan nilai yang cumlaude atau paling tidak sangat dan sangat memuaskan. Namun bagaimana jika keinginan itu menjadikan prioritas pertama dalam kuliah?? Mungkin tanpa disadari, itu pasti pernah terjadi dikalangan mahasiswa.

Mereka berlomba untuk mendapatkan nilai yang mereka inginkan, merekapun berupaya dengan sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Namun, pola fikir dan dimana dia belajar sebelumnyalah yang mempengaruhi caranya.

Belajar dengan sungguh-sungguh, mengerjakana tugas dosen dengan sungguh-sungguh, mendoakan dosen dengan sebenar-benar doa dan lain sebagainya yang lazim dilakukan oleh mahasiswa “polos” tak tahu kerasnya dunia kehidupan dan maraknya perpolitikan sekarang.

Sedangkan mahasiswa yang cerdas, dia memanfaatkan kemampuan bicaranya untuk meraih apa yang diinginkan, tak jarang pula mahasiswa memutar tapi tak sampai membalikkan omongan untuk mendapat nilai cumlaude dari dosen mereka. Menggunakan trik lobi lobi yang mungkin mereka latah dengan kata kata itu karena sekarang dikenal dengan tahun politik.

Entah itu rasa su’udhon atau apalah namanya, namun bagi mahasiswa, pikiran seperti itu sangatalah wajar mereka lakukan untuk temannya, karena coba sesekali sempatkan untuk berfikir sejenak, bahwa sebenarnya yang tahu kemampuan adalaha teman mereka sendiri, dan dosen hanya mengetahui dari hasil tugas. Alias dosen itu “judge by cover”… *hehehehehe

Sebagai seorang dosen, mungkin sudah mengalami banyak hal yang sedemikian rupa. Mulai dari istilah lobi-lobi hingga pada keseriusan mahasiswa dalam mengerjakan. Tak jarang seorang dosen hanya tersenyum melihat sikap mahasiswanya yang seperti itu mungkin karena nostalgia masa lalunya.

Hmmmmm….
Dosen oh dosen…. Mereka itu layaknya pemegang nasib bagi mahasiswa. Apa yang disenangi dosen, akan ia lakukan, apa yang diperintahkan dosen akan ia lakukan. Dengan ke sok-sok_annya mahasiswa, merekapun berkata “We are agent of change”,,,, huft.. apa nyatanya?? Ya.. agent of change bagi kehidupannya…

Mungkin pengaruh masa muda, yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah dan walau salah ia tak perduli.. *roma irama.. yang menyebabkan mereka menjadikan dan menganggap benar apa yang mereka lakukan. Bahkan tak jarang mereka menyalahkan dosen untuk dianggap tahu olehnya..

Lucu sekali dunia mahasiswa itu, mereka seolah olah mulai dewasa, beranggapan bahwa dirinya adalah yang mampu melakukan segalanya, berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan yang dia inginkan termasuk cumlaude.

Cumlaude menjadi primadona bagi mahasiswa, terlepas dia aktivis atau kupu kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), tapi.. saya berani berkata pasti. PASTI MAHASISWA PINGIN MENDAPATKAN NILAI CUMLAUDE.

Seperti yang sebelumnya saya sebutkan, berbagai cara ia lakukan, walau memang tak kentara tapi pasti ia akan berusaha untuk mendapatkan makhluk mati tak tersentuh yang bernama CUMLAUDE itu.

Yang perlu disadari oleh mahasiswa dan dosen adalah: “pada hakikatnya, nilai itu adalah penghargaan atas prestasi, bukan pemberian”


Ketika dua makhluk akademisi itu sudah paham dengan hal itu, si primadona pun akan didapat dengan sebenar-benarnya dan dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat. InsyaAllah.