Sudah sewajarnya,
seorang mahasiswa menginginkan nilai yang cumlaude atau paling tidak sangat dan
sangat memuaskan. Namun bagaimana jika keinginan itu menjadikan prioritas
pertama dalam kuliah?? Mungkin tanpa disadari, itu pasti pernah terjadi
dikalangan mahasiswa.
Mereka berlomba untuk
mendapatkan nilai yang mereka inginkan, merekapun berupaya dengan sekuat tenaga
untuk mendapatkannya. Namun, pola fikir dan dimana dia belajar sebelumnyalah
yang mempengaruhi caranya.
Belajar dengan
sungguh-sungguh, mengerjakana tugas dosen dengan sungguh-sungguh, mendoakan
dosen dengan sebenar-benar doa dan lain sebagainya yang lazim dilakukan oleh
mahasiswa “polos” tak tahu kerasnya dunia kehidupan dan maraknya perpolitikan
sekarang.
Sedangkan mahasiswa
yang cerdas, dia memanfaatkan kemampuan bicaranya untuk meraih apa yang
diinginkan, tak jarang pula mahasiswa memutar tapi tak sampai membalikkan
omongan untuk mendapat nilai cumlaude dari dosen mereka. Menggunakan trik lobi
lobi yang mungkin mereka latah dengan kata kata itu karena sekarang dikenal
dengan tahun politik.
Entah itu rasa su’udhon
atau apalah namanya, namun bagi mahasiswa, pikiran seperti itu sangatalah wajar
mereka lakukan untuk temannya, karena coba sesekali sempatkan untuk berfikir
sejenak, bahwa sebenarnya yang tahu kemampuan adalaha teman mereka sendiri, dan
dosen hanya mengetahui dari hasil tugas. Alias dosen itu “judge by cover”…
*hehehehehe
Sebagai seorang dosen,
mungkin sudah mengalami banyak hal yang sedemikian rupa. Mulai dari istilah
lobi-lobi hingga pada keseriusan mahasiswa dalam mengerjakan. Tak jarang
seorang dosen hanya tersenyum melihat sikap mahasiswanya yang seperti itu
mungkin karena nostalgia masa lalunya.
Hmmmmm….
Dosen oh dosen…. Mereka
itu layaknya pemegang nasib bagi mahasiswa. Apa yang disenangi dosen, akan ia
lakukan, apa yang diperintahkan dosen akan ia lakukan. Dengan ke sok-sok_annya
mahasiswa, merekapun berkata “We are agent of change”,,,, huft.. apa nyatanya??
Ya.. agent of change bagi kehidupannya…
Mungkin pengaruh masa
muda, yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah dan walau salah ia tak
perduli.. *roma irama.. yang menyebabkan mereka menjadikan dan menganggap benar
apa yang mereka lakukan. Bahkan tak jarang mereka menyalahkan dosen untuk dianggap
tahu olehnya..
Lucu sekali dunia
mahasiswa itu, mereka seolah olah mulai dewasa, beranggapan bahwa dirinya
adalah yang mampu melakukan segalanya, berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan
yang dia inginkan termasuk cumlaude.
Cumlaude menjadi primadona
bagi mahasiswa, terlepas dia aktivis atau kupu kupu (kuliah pulang-kuliah
pulang), tapi.. saya berani berkata pasti. PASTI MAHASISWA PINGIN MENDAPATKAN
NILAI CUMLAUDE.
Seperti yang sebelumnya
saya sebutkan, berbagai cara ia lakukan, walau memang tak kentara tapi pasti ia
akan berusaha untuk mendapatkan makhluk mati tak tersentuh yang bernama
CUMLAUDE itu.
Yang perlu disadari
oleh mahasiswa dan dosen adalah: “pada hakikatnya, nilai itu adalah penghargaan
atas prestasi, bukan pemberian”
Ketika dua makhluk
akademisi itu sudah paham dengan hal itu, si primadona pun akan didapat dengan
sebenar-benarnya dan dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat. InsyaAllah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar