Senin, 07 Mei 2012

Membaca Karena Tulisan

Pastinya tulisan memulai untuk membaca ‘Language is not everything but everything without language is nothing’ bukanlah hal yang asing dizaman saat ini, berbagai ilmu dalam berbicara sudah muncul, baik dengan cara aksi damai turun kejalan, dengan tulisan, dan ada juga dengan kajian yang didalamnya ada ceramah dan audience. Memang mudah mempelajari tata bahasa, namun tak mudah untuk mempraktekkan dalam kehidupan, macam – macam budaya, macam – macam adat dan juga macam – macam pemahaman adalah sedikit factor dari sulitnya mempraktekkan ilmu bicara yang mudah dipelajari itu. Teriakan – teriakan yang diteriakkan para orang yang aksi damai turun kejalan mungkin salah satu strategi untuk menyampaikan apa yang sudah diketahui, mungkin juga salah satu wujud bahwa keinginan untuk mempertahankan eksistensi diri dan mungkin juga sebagai sarana praktek ilmu bicara. Berbagai macam tulisan muncul bergantian, secara otomatis, penulis baru mulai berdatangan dan penulis lamapun mulai meningkatkan kualitas tulisannya. Mungkin menulis tak sekedar untuk mempraktekkan ilmu yang sudah didapat namun juga untuk mempertahankan kehidupan ditengah kondisi yang fatamorgana ini. Kajian berupa ceramah tak sekedar hanya kajian, tak sekedar keidentikan akan sebuah kepercayaan dan juga tak sekedar hanya untuk menyampaikan ilmu yang didapat, mungkin juga semua itu untuk mengajak seseorang dari yang sudah baik menjadi lebih baik. Berbicara tak mudah, banyak masyarakat dari berbagai kalangan, oleh sebab itu, cara ampuh untuk berda’wah adalah menyesuaikan dengan orang yang diajak, menyesuaikan dengan kondisi, ilmu pengetahuan dan juga pengalaman, tak sekedar ngomong, ‘talk less do more’. Setiap orang pasti pernah membaca, walaupun itu hanya satu huruf, walaupun sudah belajar membaca berulang kali namun tidak bisa membaca namun pastinya, seseorang pernah membaca, dan pastinya juga yang dibaca adalah tulisan. Hal ini adalah postulat bahwa strategi yang cocok untukmenyampaikan adalh melalu tulisan, tulisan yang bisa diterima oleh yang menjadi sasaran, tulisan yang bisa diterima bagi pembaca dan tulisan yang mampu menarik para pembaca sehingga mampu untuk mempengaruhi jaringan – jaringan lain. Menjadi pribadi yang bisa diterima dimanapun dan kapanpun kita berada memang tidak mudah namunhal itu bukan berarti utopis sehingga membuat putusasa dalam menghadapi keanekaragaman yang ada. Walau kadang memang menulis membosankan bagi para pemula, maka kebosanan itulah yang membuat masyarakat semangt untuk membaca tulisan yang sudah terbit. Hoby membaca semakin membludak dengan banyaknya motivasi yang muncul untuk membaca bahwa membaca adalah jendela dunia. Tulisan bagus selalu memunculkan ketertarikan, maka yang difikirkan adalah bagaimana cara untuk menciptakan tulisan yang bagus, tulisan yang mampu mengajak dan tulisan yang mampu memunculkan inspirasi untuk berubah, tak sekedar berkata namun juga melaksanakan, ‘talking and doing’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar